Mendengarkan Tuhan atau Diri Sendirikah Kita? (4)
Satu keindahan dalam liturgy kita ini sebenarnya adalah kesempatan hening yang luar biasa. Namun, kadang ini justru kurang dimanfaatkan. Banyak orang tidak tahu harus berbuat apa pada saat-saat hening bahkan ada yang merasa takut. Memang demikianlah kenyataan manusiawi kita pada saat kita mengalami atau masuk dalam keheningan. Namun, justru dalam keheningan itu Tuhan mau berbicara lebih jelas kepada kita. Keheningan berbeda dengan kesunyian. Kesunyian adalah soal suasana nyata di sekitar kita, sedangkan keheningan itu soal sikap batin. Idealnya, kita harus bisa tetap hening meski sedang menghadapi saat-saat yang rebut dan kacau balau.
Perayaan Ekaristi kita ini mempunyai bagian-bagian yang hanya bisa dihayati jika orang berani belajar hening. Karena itu, lagu-lagu yang dibantu paduan suara hendaknya mendukung setiap bagian. Pemilihan lagu yang tidak tepat sesuai dengan semangat dan maksud bagian liturgy justru menyebabkan orang kehilangan makna bagian itu. Atau dengan kata lain, lagu-lagu itu justru mengacaukan perayaan ekaristi. Demikian juga dengan Injil yang sedang dibacakan bagi kita ini. Untuk mampu menangkap maksud Yesus bertindak atau mengatakan sesuatu diperlukan keheningan. Saat orang hening, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri, dengan kelemahan dan keterbatasan diri sendiri. Jika sikap batin sebagai orang yang lemah ini menguasai kita saat mendengarkan Injil, kita akan bisa menemukan maknanya. Injil disampaikan untuk dimengerti secara sederhana. Yesus sendiri berdoa, “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Allah sebab semuanya ini Kaunyatakan kepada orang-orang kecil dan sederhana…”. Keheningan akan mengajar kita bagaimana menjadi sederhana di hadapan Tuhan.
Baik jika setiap akan mengakhiri setiap bacaan Kitab Suci, diberikan saat hening sejenak agar kita sedikit berkesempatan berbicara langsung dengan Tuhan. Barulah kemudian kita menjawab, “Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup” setelah imam menyatakan “Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.” Baik dalam Bacaan Pertama dan Kedua ataupun dalam Injil ini kita senantiasa diminta menyatakan jawaban kita. Pada bacaan Pertama dan Kedua kita menjawab, “Amin.” Artinya setuju. Apa yang kita setujui? Bagaimana kita bisa setuju kalau kita tidak mengerti apa yang akan kita setujui?! Lalu apa yang sudah kita lakukan? Tidak berguna apa-apa jika kita tidak mengerti dan mengimani bacaan yang baru didengar.
Demikian juga jawaban lebih lengkap setelah Injil dibacakan. Pernyataan itu merupakan pernyataan iman, bahwa hanya Sabda Tuhanlah yang menjadi pegangan, panduan, dasar, tujuan dari setiap tindakan dan keputusan setiap tindakan kita dalam kesempatan apapun dalam hidup. Kata “hidup” yang dimaksud dalam jawaban umat setelah Injil adalah menyangkut keseluruhan aspek hidup kita. Sudahkah kita mengusahakan terwujudnya hal itu dalam hidup kita ataukah itu hanya usapan bibir sebagai jawaban formalitas saja?!
Setelah itu kita dipersilakan duduk untuk aktif mendengarkan homily atau kotbah. Fungsi kotbah adalah menjelaskan bagaimana kita dapat melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Bagaimana bacaan atau tema perayaan hari itu bisa kita gunakan untuk mengubah dan mengembangkan hidup Kristen kita. Keterbukaan kita merupakan bagian penting agar homily ini berbuah, bukan saja bagaimana cara penjelasan itu disampaikan. Iman dan doa perlu mendukung kita dalam mendengarkan penjelasan itu. Kadang homily bisa mengena pada beberapa orang sedangkan bagi kebanyakan tidak jelas sama sekali. Apa yang membuatnya demikian? Orang-orang itu mendengarkan dengan iman, tidak hanya dengan ingatan dan akal budinya. Inilah unsur penting juga dalam mendengarkan Sabda Tuhan, yaitu iman.
Saat hening setelah homily sangatlah membantu kita, seharusnya, untuk merenungkan Sabda Tuhan, penjelasannya dan hidup kita sendiri. Apa yang harus kubuat untuk bisa mengubah hidup seperti yang diharapkan oleh Tuhan melalui Sabda yang baru dibacakan. Inilah saat kita belajar sejenak hening, membiarkan diri kita sendiri berhadapan dengan Tuhan. Percayalah, saat hening itu akan membantu kita memahami apa yang akan kita lakukan dalam hidup. Syaratnya hanya satu, asal kita mau mengimani Tuhan dan mau terbuka akan Sabda-Nya saat itu. Kesulitan sering muncul karena kita hanya mau mendengarkan keberatan kita melakukannya, bukan apa yang dimaksudkan Tuhan dengan meminta kita melakukan sesuatu. Kita hanya melihat apa yang harus kita korbankan, bukan apa yang dijanjikan Tuhan bagi kita jika mau melakukannya. Mendengarkan juga berarti belajar untuk keluar dari ketakutan diri sendiri dan berani mencoba sesuatu yang baik sesuai dengan hati nurani kita yang dipupuk dengan doa dan iman. Kapankah kita akan mencobanya?!