Mendengarkan Tuhan atau Diri Sendirikah Kita? (3)
Sabda itu seharusnya mengubah hati kita. Dengan hati yang berubah kita bisa mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih tenang sehingga tahu dan mampu mengubah hidup sesuai dengan Sabda-Nya. Namun, sekali orang mendengar, belumlah cukup. Karenanya kita disajikan sekali Bacaan Kedua sebelum kita mendengarkan Kisah Yesus Kristus sendiri. Bacaan kedua biasanya mau menunjukkan bagaimana jemaat yang telah percaya kepada Yesus Kristus berusaha menghidupi dan berjuang untuk hidup selaras dengan teladan hidup Yesus sendiri. Kalau Bacaan Pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama, kalau Bacaan Kedua ini biasanya disampaikan dari Perjanjian Baru. Sekali lagi, saat hening diperlukan setelah kita mendengar Sabda Tuhan ini.
Saat hening ini memberikan kesempatan kepada kita secara pribadi untuk berbicara kepada Tuhan. Setiap hal yang otomatis mematikan hubungan personal. Karenanya kita perlu hening merenungkan apa jawaban kita setelah Tuhan mengatakan sesuatu kepada kita. Jangan-jangan selama bacaan-bacaan itu dibacakan, kita sibuk dengan pikiran-pikiran kita sendiri meskipun mata dan diri kita hadir di sini. Hati kita ada di tempat kerja, di mal, di tempat-tempat yang akan kita kunjungi setelah ikut misa. Melihat jam tangan dan gelisah karena merasa sudah cukup lama duduk mulai mengganggu kita. Ingat baik-baik, kita sedang mau siap mendengarkan apa yang mau Tuhan sampaikan. Kalau kita sibuk sendiri meskipun tanpa gerakan apapun, tapi hati kita ke mana-mana, kita sama sekali tidak akan pernah bisa mendengarkan Tuhan. Tuhan kehilangan tempat dan waktunya dalam hidup kita.
Setelah dengan tenang kita mendengarkan Sabda Tuhan dan belajar menjawabnya, entah kita sdar atau tidak, Tuhan tidak putus asa dengan keadaan kita itu. Tuhan tetap mau hadir, bahkan kini dia tidak lagi menggunakan perantara lain. Dia mau hadir sendiri. Tuhan hadir dalam wujud manusia Yesus yang berbicara, memandang, sakit, dan bisa merasa seperti kita, manusia. Satu tujuannya, agar kita lebih mengerti apa yang sebenarnya harus kita buat agar hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan. Injil diperdengarkan sebagai suatu kabar gembira bagi kita semua, bahwa Tuhan juga mau mencintai kita meski kita ini kerapkali tidak mau mengindahkan Dia, meski kita kerapkali hanya sibuk mendengarkan diri kita sendiri.
Kita berdiri menyambut Tuhan yang hadir sendiri dan menyanyikan bersama pujian kepada Allah dan seruan iman dalam ayat-ayat Bait Pengantar Injil itu. Karena merupakan ungkapan iman, seperti halnya Mazmur Tanggapan tadi, kita mengucapkan atau menyanyikannya bersama-sama sebagai seluruh umat yang kini siap menerima Tuhan yang hadir sendiri melalui Yesus Kristus. Karena itu, Bait Pengantar Injil tidaklah dibawakan oleh Pemazmur, tetapi kini dibawakan oleh umat, yang biasanya diwakilkan kepada koor atau bagian dari koor. Setelah ini mengungkapkan secara singkat iman kita akan Tuhan yang mau hadir itu, kita siap mendengarkan Injil, Kabar Gembira mengenai Yesus Kristus.
Kisah hidup Yesus disampaikan oleh 4 pengarang Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kisah Injil yang ditulis oleh Matius disampaikan kepada kita pada Tahun Liturgi A. Sekarang ini kita sedang dalam tahun itu. Mulai dengan Minggu Adven Pertama sampai dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, seminggu sebelum Minggu Adven Pertama merupakan satu tahun Liturgi Gerejani. Dalam satu tahun itu Injil yang digunakan adalah dari Matius. Sedangkan Tahun B, injilnya diambil dari Markus dan Lukas pada Tahun Liturgi C. Injil menurut Yohanes biasanya disampaikan pada pesta atau Hari-hari Raya di tengah-tengah Tahun Liturgi berlangsung.
Sikap berdiri tegak merupakan kesiapsediaan kita untuk melakukan apa yang diteladankan Yesus. Kita mau mengubah hidup kita kta seperti yang dibuat oleh Yesus dalam interaksinya dengan lingkungan dan setiap orang yang dijumpai-Nya. Injil didahului dengan sapaan yang menyadarkan bahwa Tuhan hadir dalam diri kita, imam dan umat yang hadir. “Tuhan sertamu.” Dan kita menjawab dengan penuh keyakinan bahwa “Dan sertamu juga.” Inilah dasar kita mendengarkan Injil ini. Tuhan senantiasa mau mendampingi kita untuk berubah. Dia tidak pernah berhenti untuk menyediakan kesempatan kita untuk bertobat.
Persetujuan kita akan berita gembira itu kita nyatakan dengan seruan “Dimuliakanlah Tuhan!” setelah imam menyerukan darimana Injil yang akan dibacakan. Sementara kita menyerukan itu, kita membuat tanda salib kecil di dahi, di mulut, dan di dada. Apa maksudnya? Saat kita membuat tanda salib di dahi, kita berdoa, “Tuhan berkatilah pikiranku agar aku dapat mengerti Sabda-Mu.” Di mulut, “Berkatilah mulutku agar aku dapat mewartakan Sabda-Mu.” Kita buat di dada, “Berkatilah hatiku agar dapat merenungkan Sabda-Mu.” Doa-doa singkat itu bisa kita buat sebagai bentuk penyadaran diri kita akan maksud Injil dibacakan dan kesdiaan kita mengubah hidup sesuai dengan pewartaan Injil. Karenanya kita perlu membuat tanda salib-tanda salib itu dengan pelan dan penuh kesadaran. Doa-doa singkat tadi membantu kita untuk menyadari maknanya. Segala sesuatu berharga kalau kita menyadarinya. Sudahkah semua makna dan buah-buah rahmat itu menjadi milik kita? Ataukah kita tidak sadar bahwa semuanya sudah kita miliki?! Kesadaran ini membantu kita untuk bisa mendengarkan kehendak Tuhan.